Tuesday, 23 April 2013

Tarawangsa, “Alat Musik Kahyangan” dari Tatar Parahyangan


Tarawangsa (Tengah) saat dimainkan secara ensemble. (poto dari: paseban.com)
Tarawangsa merupakan salah satu alat musik tradisional masyarakat Sunda. Keberadaan tarawangsa telah disebut-sebut dalam naskah-naskah Sunda Kuno seperti Jatiraga dan Sewa ka Darma (saya saya belum menemukan transliterasi naskah ini) yang ditulis pada masa Kerajaan Sunda-Pajajaran masih berdiri tegak.
Kini, tradisi seni tarawangsa masih hidup di beberapa daerah Jawa Barat walau hanya bisa dihitungnya dengan jari. Sebutlah Rancakalong di Sumedang, Cipatujah di Tasikmalaya, dan di daerah-daerah tertentu di Bandung dan Banten.
Tarawangsa dan Jentreng
Tarawangsa merupakan alat musik kayu yang terdiri atas dua bagian, tangkai penampang dawai dan badan (body) berbentuk kotak. Dawainya terdiri atas dua senar yang dimainkan oleh lengan kiri, sementara penggeseknya dimainkan oleh tangan kanan. Adapun senar yang satu dan paling dekat dengan pemain dimainkan dengan cara digesek, sedangkan senar satu lagi dipetik dengan jari telunjuk. Kayu yangdipergunakan untuk membuat tarawangsa adalah kayu kemiri, jengkol, dadap, dan kenanga.
Tarawangsa tak berdiri sendiri. Ia merupakan ensemble yang ditemani oleh alat musik lain bernamajentreng yang berbentuk seperti kecapi. Jentreng terbuat dari kayu dan terdiri atas tujuh dawai dan dimainkan dengan dipetik.
Laras yang dipergunakan dalam memainkan tarawangsa adalah pelog, disesuaikan dengan steman jentreng yang pelog.
Asal Mula Tarawangsa
Sukar sekali melacak sejak kapan alat musik tarawangsa lahir di Tanah Pasundan, karena ketiadaan sumber tertulis mengenai hal tersebut. Namun, kita masih diuntungkan oleh sejumlah tradisi lisan yang hidup hingga kini yang mengisahkan asal mula tarawangsa, salah satunya tradisi lisan masyarakat Rancakalong, Sumedang. Menurut versi lisan Rancakalong, seni tarawangsa telah ada sejak masa Kerajaan Mataram Kuno, sekitar abad ke-8 atau ke-9 Masehi.
Dikisahkan bahwa pada saat itu di Tatar Sunda belum ada bibit padi (sawah). Syahdan, sekelompok pemain musik jalanan alias pengamen dari Tatar Sunda, dengan membawa berbagai alat tatabeuhanseperti celempungrengkong, dan tarawangsa, tiba di wilayah Mataram (antara Jawa Tengah dan Yogyakarta kini), sebuah negara dengan wilayah yang menghasilkan beras melimpah. Dari benak para pengamen ini lahir sebuah gagasan konyol namun revolusioner: mencuri benih padi. Para pengamen pun mencoba menyembunyikan benih padi ke dalam celempung, alat musik pukul dari bambu. Namun, upaya penyembunyian ini gagal. Tak kehilangan akal, para pengamen ini mencoba memasukkan benih ke dalamrengkong, yakni pikulan untuk padi dari bambu (awi gombong) yang diikat dengan tali ijuk dan jika dibawa menimbulkan bunyi menyerupai suara burung rangkong (sejenis angsa) yang dihasilkan dari gesekan tali ijuk dengan batang pikulan tersebut. Akan tetapi, lagi-lagi usaha para pengamen ini gagal. Mereka terus mencari akal dan kemudian, seorang dari mereka yang bernama Eyang Sinapel atau Eyang Wisya Mangkunegara berhasil membawa benih padi dengan cara menyembunyikan di lubang tarawangsa. Usaha si eyang ini berhasil, mereka pun lalu pulang ke kampung halamannya di Rancakalong dengan membawa benih padi asal Mataram itu. Konon, sejak itu Tanah Sunda menjadi salah satu penghasil beras utama, selain Jawa.
Kisah bersifat legenda di atas, selain mengisahkan hal ikhwal keberadaan tarawangsa pada awal sekali, juga memberitakan bahwa masyarakat Sunda pada masa tersebut (abad ke-8 dan ke-9) belum mengenal jenis padi sawah, melainkan hanya padi huma. Artinya, mereka belum mengenal leuit atau lumbung padi yang merupakan budaya dari bercocok padi di sawah, dikarenakan masyarakat Sunda pada umumnya hidup di dataran tinggi dan pegunungan yang cocok untuk digarap sebagai lahan perhumaan yang tidak membutuhkan sistem irigasi. Jadi, pada masa itu masyarakat Sunda membawa padi hasil panen mereka langsung ke rumah dengan bantuan rangkong, belum ke lumbung padi. Budaya ladang dari masyarakat Sunda pun terlihat dari alat-alat musik yang mayoritas terbuat dari bambu.
Tentu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai sejarah lahirnya tarawangsa. Bukan suatu kebetulan jika wilayah-wilayah lain di Jawa Barat memiliki tradisi lisan serupa dengan versi yang belum tentu sama persis.
Persembahan kepada Sanghyang Sri
Tarawangsa diperagakan saat digelarnya perayaan hasil panen dan diperuntukkan kepada Sanghyang Pohaci Sri, makhluk langit penguasa padi. Dalam perayaan ini, para penari yang terdiri atas sejumlah lelaki dan perempuan, turun ke gelanggang dengan diiringi ensemble tarawangsa dan jentreng.  Mereka menari dengan pola tak beraturan, karena memang musik tarawangsa ini tidak menuntut tarian dengan pola tertentu. Prosesi tarawangsa dipimpin oleh saehu atau sesepuh adat, di mana sepasang patung lelaki dan perempuan perwujudan Aki Balangantrang dan Nini Pohaci, wajib  selalu dihadirkan.
Alat Musik Kahyangan
Kata tarawangsa sudah disebut-sebut dalam sejumlah naskah berbahasa dan beraksara Sunda Kuno seperti Jatiniskala (Jatiraga). Dalam naskah-naskah ini disebutkan bahwa alat tarawangsa diperdengarkan di alam kahyangan. Hal ini dapat kita lihat dari kutipan teks Jatiniskala berikut:
Yata nira nu mangih / ning bumi kumirincing / Rari sada tatabeuhhan / ri aci bemiring kumirinycing / kumarenycang kumarenycong / rari ti nu rari aci kwaswar(r)anan / hya(ng) gending (gending) narawangsa / kaamsuh ku deneng pawana (Maka dialah yang menemukan, dunia gemerincing. Ramai suara bunyi-bunyian, dalam pusat dunia gemerincing, kumarencyang-kumarenycong, lebih ramai daripada pusat keramaian di bawah, gamelan keramat dibunyikan diiringi tarawangsa, tersebar oleh hembusan angin).
Selain tarawangsa, ada sejumlah atal musik lain yang disebutkan oleh sejumlah naskah Sunda Kuno seperti Para Putra Rama dan RawanaSri Ajnyana, Bujangga Manik. Mereka adalah goong (gong) kuning,goong jawagending (gendang), sarunay (seruling), gangsa (gamelan perunggu, canang), caning,  karinding,  dan kacapi, di mana sebagian alat musik tersebut, terutama alat pukul (tatabeuhan), sering diperdengarkan di alam kasorgaan dan kahyangan.

Sumber Rujukan
Noorduyn, J. dan A. Teeuw. Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya.
“Jentreng Tarawangsa: Menari untuk Dewi Padi”. Diunduh 22 Oktober 2011. Dari http://berita.liputan6.com/read/331218/jentreng-tarawangsa-menari-untuk-dewi-padi

sumber informasi --> http://wacananusantara.org

0 comments:

Post a Comment